Kegiatan penjual kerupuk di Tangerang menjajakan dagangannya saat COVID-19 . LEBIHDALAM/Rendy A. Diningrat

Melihat pandemi dari jalan

Kerap dari rumah, saya mendengar raungan sirene ambulans seperti ini dari kejauhan. Bunyi sirene semakin sering terdengar setelah pandemi merebak.

.

Bagian 1. Tidak ada lockdown di jalan

Klik.

Dari sebuah saklar pada karavan ini, perjalanan kami dimulai. Setelah dinyalakan, sontak sirene berbunyi membelah jalanan. Sesekali saya menoleh ke belakang: plastik tebal membatasi bagian depan dan penumpang mobil ini, sementara tabung-tabung oksigen berdiri di samping tempat tidur.

Dari sebuah perjalanan ke Puskesmas di Kota Tangerang, saya berbincang dengan sang supir. Ambulans yang dia kendarai bisa melakukan sampai 40 kali perjalanan per hari membawa pasien COVID-19. Jumlah ambulans terbatas, menurutnya. Tetapi permasalahan bukan hanya soal keterbatasan moda; perjalanan kami beradu dengan kendaraan lain di jalan.

Kota Tangerang yang berada di pinggiran kota Jakarta dipadati oleh kegiatan industri dan pergudangan karena letaknya yang strategis serta berdekatan dengan bandara. Jalan-jalan kolektor dan lokal dipenuhi oleh truk besar bermuatan logistik – menyesakkan jalan yang lebarnya pun tak seberapa. Tidak pernah ada cerita jalanan sepi selama pandemi. Jalanan tetap ramai dengan truk, parkir motor, pejalan kaki, pedagang kaki lima, gerobak, pengamen, kucing – apa saja ada di jalan!

Ambulans ini merupakan bagian dari assemblage sebuah skenario menyelamatkan penduduk kota. Bukan hanya dituntut cepat, tetapi juga harus mampu membaca situasi jalanan yang tidak pasti.

Jika narasi tentang krisis COVID-19 di negara di selatan banyak diceritakan berkaitan dengan kepadatan hunian dan krisis air bersih (Arabindoo, 2020; Bhan et al., 2020), ambulans ini menuturkan bahwa pergerakan di jalan memiliki kerentanan tersendiri. Tidak ada jarak aman antar orang bukan hanya beresiko menularkan virus, tetapi juga menghambat perjalanan darurat. Sepanjang perjalanan, tidak terhitung berapa kali ambulans harus terhenti karena kemacetan pasar atau truk parkir yang memenuhi badan jalan.

Persis, tidak ada lockdown di kota ini. Tidak ada jalan yang steril dari kegiatan manusia. Semua berjalan seperti biasa.

Bagian 2. Tidak ada yang tidak bisa dikendalikan di jalan

Yang tidak biasa dari jalanan hari itu adalah dua sepeda motor yang berada di depan ambulans. Sebelum keberangkatan ambulans, mereka mendekati supir dan berkata, “kita kawal, deh”. Salah satu pengendaranya berjaket hijau neon, bertuliskan ‘ambulans dan damkar’. Dengan gesit kedua motor tersebut membelah jalan yang padat dengan beberapa kali bertukar isyarat dengan supir ambulans dan pengendara lain di jalan.

Para pengawal ambulans adalah infrastruktur lain yang jarang diceritakan dalam narasi krisis pandemi COVID-19. Di tengah jalan yang sempit, keramaian, dan ketidakteraturan jalanan. Relasi antara pengetahuan spasial pengawal ambulans dan isyarat tangan yang dipertukarkan menjamin efisiensi pergerakan ambulans menuju fasilitas kesehatan.

Di beberapa perempatan jalan, kami berpapasan dengan relawan lain yang berjaga di setiap lampu merah. Tangannya lincah memberi aba-aba kepada kendaraan lain untuk segera maju, memastikan bahwa ambulans bisa menerobos lampu lalu lintas.

Di tengah kompleksitas penanganan pandemi COVID-19, jalan sebagai sebuah infrastruktur mengorkestrasikan narasi kedaruratan dan kesukarelaan, prioritas dan minoritas. Jalan tidak beroperasi sendiri, tetapi berkelindan dengan infrastruktur dan diskursus yang bisa mempercepat tetapi juga memperlambat penanganan pasien.

Jalan penuh dengan ketidakpastian di setiap persimpangannya. Tetapi, pengawal ambulans tadi seperti mengisyaratkan: tidak ada yang tidak bisa dikendalikan di jalan.


Artikel ditulis oleh Wahyu K. Astuti, Peneliti Centropolis UNTAR.

Foto sampul: Kegiatan penjual kerupuk di Tangerang menjajakan dagangannya saat COVID-19 . LEBIHDALAM/Rendy A. Diningrat