Seorang pedagang bakpia di Kawasan Malioboro, Yogyakarta, tengah menghitung penghasilan hariannya. LEBIHDALAM/Rendy A. Diningrat

Bagaimana COVID-19 berdampak pada kondisi sosial-ekonomi masyarakat di Indonesia?

Kita tahu, pandemi COVID-19 tidak hanya mengguncang sektor kesehatan, tetapi juga aktivitas sosial-ekonomi. Mobilitas menurun. Pergerakan fisik bergeser, berputar-putar di skala yang lebih lokal.

Gejolak permintaan dan penawaran membuat ekonomi melambat. Aktivitas sosial terganggu, mengubah cara orang berinteraksi, termasuk untuk memperoleh layanan pendidikan dan kesehatan.

Ini yang penting, ketimpangan membuat tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam merespon dan mengelola dampak COVID-19. Ujungnya dapat diprediksi: penurunan kualitas hidup.

Teknologi mungkin dapat meningkatkan ketahanan keluarga namun tidak semua memiliki kemewahan itu. Misalnya, tidak semua orang dapat dengan cepat mengubah mobilitas fisik ke mobilitas virtual karena persoalan ketersediaan infrastruktur dan kemampuan memanfaatkan internet. Ketersediaan internet masih serba bias: kewilayahan (kota), sektor usaha, kelas ekonomi, pendidikan, usia, dan gender.

SMERU memprediksi 2,3 juta orang berpotensi menganggur, terbanyak di sektor perdagangan dan industri. Pasar tenaga kerja perlu mengantisipasi gelombang angkatan kerja baru sekaligus mereka yang ter-PHK. Mereka yang berburu kartu prakerja memiliki motivasi ganda: memanfaatkan insentif pelatihan dan bantuan tunai sebagai bantalan pandemi.

Tingkat kemiskinan juga beresiko kembali 2 digit hingga 12,4%. Artinya akan ada sekitar 8,5 juta orang miskin baru. Kelompok miskin dan rentan berpotensi menerima dampak besar karena tak punya banyak pilihan: aset dan kapabilitas. Ia juga dapat menambah kompleks kemiskinan anak.

https://www.instagram.com/p/CMKNCEphSOs/?utm_source=ig_web_copy_link

Pendidikan harus berjibaku dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Praktiknya sangat beragam: makin lemah sistem pendukungnya makin rentan untuk menurunkan kemampuan belajar siswa (learning loss). Orang tua belum tentu siap. Guru pun demikian: 31% merasa sulit memantau murid belajar, 23% kesulitan akses internet.

Pandemi COVID-19 juga menurunkan jumlah kunjungan rutin layanan kesehatan, seperti layanan gizi dan kesehatan ibu dan anak. Alasannya beragam, mulai dari tidak mengetahui informasi dan prosedur terbaru hingga takut tertular virus. Bila tak diantisipasi, dampaknya mungkin tidak terlihat hari ini tapi jangka panjang: misalnya stunting.

Bantuan sosial masih memiiki pekerjaan besar mengurai benang kusut pendataan. Penyaluran BLT-Dana Desa barangkali bisa memberi pembelajaran bagaimana aktor di tingkat lokal dapat membantu ketepatan sasaran.

Hampir setahun pandemi bersama kita. Pemerintah dan kita, rakyatnya, tentu telah bekerja keras. Pemulihan kondisi sosial-ekonomi perlu dimulai dari manusianya yang sehat dan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Berbagai upaya itu membutuhkan kebijakan berbasis bukti hasil penelitian, bukan wangsit.

Mari berdoa agar petunjuk di 2021 lebih jelas dan terarah.


Ditulis oleh Rendy A. Diningrat.

Foto sampul: Seorang pedagang bakpia di Kawasan Malioboro, Yogyakarta, tengah menghitung penghasilan hariannya. LEBIHDALAM/Rendy A. Diningrat